Dimuat pada: Fri, Aug 30th, 2013
Pada kategori: Berita Terbaru / DKI Jakarta / Hukrim

“’ MENGAKU PETUGAS KPK BAGIAN PENINDAKAN ’’ BWS TIPU KORBAN MILIYARAN RUPIAH DIAJUKAN KE PENGADILAN

Bagikan
Tags

 

 

kpk

Jakarta, Jurnalkota,

Disaat  Pemerintah RI,dan Komisi Pemberantasan Korupsi {KPK}sedang gencar-gencar nya untuk memberantas kasus Tindak Pidana Korusi yang merugikan keuangan Negara .kini ada oknum yang “mengaku  sebagai karyawan Komisi Pemberantasan Korupsi {KPK}, di masyarakat dan media ,yaitu terdakwa Bayu Widodo Sugiarto(47},warga pondok jaya mampang Jakarta Selatan , didakwa oleh Jaksa  Penuntut Umum {Jpu} Nurfah,Sy SH  dari Kejat DKI Jakarta melakukan tindak Pidana penipuan dan penggelaan mencapai Rp.4,8 Miliyar ,diajukan ke Pengadilan Negeri {PN}Jakarta Timur pada  senin kemarin

Menurut Jaksa perbuatan tersebut terjadi  pada bulan April 2010 ,saksi korban Mindo Rosalina Manulang diberitahukan oleh Paul Nelwan untuk diperkenalkan dengan terdakwa Bayu Widodo Sugiarto alias Ndoro BEI yaitu orang yang akan menjaga dan melindungi saksi yang sedang ada masalah,dan sekitar seminggu kemudian memperkenalkan saksi dengan terdakwa Bayu Widodo Sugiarto di Gedung FX  tepatnya di Cafe dan Resto di Jalan Jendral Sudirman Jakarta ,sekitar satu jam datang terdakwa Bayu bersama dengan seorang perempuan  dan duduk satu meja bersama saksi.,setelah berbicara kurang lebih 15 menit ,terdakwa Bayu menyuruh teman perempuan nya untuk pindah meja karena ada yang sangat rahasia hanya saksi korban dengan terdakwa saja yang boleh tahu

Kemudian terdakwa Bayu Widodo Sugiarto mengatakan kepada saksi korban”ibu sudah diawasi KPK”, semua langkah ibu sudah masuk dalam pengawasan KPK dan ibu adalah TO  KPK” katanya dan ketika saksi korban bertanya  apa TO kemudian dijawab oleh terdakwa Bayu” Target Oprasi” lalu terdakwa mengatakan bahwa dirinya sering bertemu orang penting dan sering kesenayan ,lalu saksi korban bertanya kepada terdakwa bapak kerja dimana” dijawab oleh terdakwa Bayu “saya kerja di KPK dilantai 6 bagian penindakan” dan terdakwa juga mengatakan kepada saksi korban”saya tau semua tentang selak beluk kantormu dan Bosmu ,justru saya kasihan sama ibu karena ibu karyawan dan saya hanya mau mengamankan ibu secara pribadi.

Setelah itu terdakwa Bayu Widodo Sugiarto pergi ,dan sejak saat itu beberapa kali diadakan pertemuan antara saksi korban dengan terdakwa ,dan pada pertemuan tersebut terdakwa Bayu mengatakan bahwa penangkapan terhadap saksi korban sudah diketik yang akhirnya terdakwa Bayu meminta kepada saksi korban untuk menyerahkan uang kepada terdakwa sebesar Rp.3 Miliyar dengan alasan untuk biaya pengamanan ,sejak korban dan uang yang dimaksud akan terdakwa serahkan kepada teman-temannya di KPK serta kepada komandan-komandannya ,kemudian saksi korban berusaha pinjam ke kantor ,namun sebelum saksi korban mendapatkan uang tersebut sudah ditelephon kembali oleh terdakwa dan akhirnya saksi korban mengatakan bahwa dirinya bau memiliki uang sebesar Rp.500 juta rupiah,uang tersebut dibungkus dalam paer bak yang kemudian diserahkan sendiri oleh saksi kepada terdakwa Bayu di FX,seusai terdakwa menerima uang ,lalu terdakwa Bayu bertanya kepada saksi korban “sisanya kapan”, dijawab oleh saksi korban segera  1-2 hari ini,

terdakwa kembali mengatakan “harus besok karena saya sudah janji dengan teman-teman”selanjutnya penyerahan uang yang kedua kalinya yang menyerahkan uang sebesar Rp.500 juta adalah sopir saksi korban Agus Witono,setelah terdakwa Bayu menerima uang ,kemudian BBM kepada saksi korban dengan kata-kata “uangnya sudah diterima dan sejak  saat itu saksi korban sering berkomunikasi dengan terdakwa ,namun setelah saksi menyerahkan uang kepada terdakwa Bayu yang mengaku petugas KPK bagian Penindakan sebesar Rp.1 Miliyar ,ternyata saksi korban pada tanggal 21 Aril 2011 ditangkap oleh Petugas KPK.

Setelah saksi korban Mindo Rosalina Manulang  ditangkap KPK maka anak-anak saksi tidak ada yang mengurusnya ,kemudian Fernando adik saksi korban menelpon saksi Pasca Ed Manulang untuk datang ke Jakarta supaya merawat anak saksi korban serta asset-asset saksi korban berupa dua unit mobil berikut STNK dan BPKB yang terdiri dari satu unit mobil merek Toyota Velifire N0.P0l.B-1473-SPE warna putih tahun 2011 atas nama PT.Pacivic ,dan satu unit mobil Toyota Fortuner N0.Pol-B-1-NTG warna hitam tahun 2009 atas nama Mindo Rosalina Manulang ,dan perhiasan emas seberat 150 gram berupa batangan sebanyak dua keping ,1 keping seberat 100 gram   dan 1 keping seberat 50 gram  dan satu buah sertifikat Ruko Hak Guna Bangunan {HGB} N0.03812 atas nama Mindo Rosalina Manulang  dan uang sebesar Rp.1,180.000.000,-  {satu miliyar seratus delapan puluh juta rupiah},selanjutnya saksi Pasca Ed Manulang datang ke Jakarta dan tinggal dirumah Mindo Rosalina Manulang untuk merawat anak dan asset-asset milik saksi korban .

Ketika saksi Pasca Ed Manulang berada dirumah Mindo Rosalina Manulang  dibulan Juli 2011 datang saksi Tomy Haryoseno bersama dengan Rio Dharma sakti {Belum tertangkap} disuruh oleh saksi Mindo Rosalina Manulang untuk memperpanjang STNK mobil Toyota Fortuner dan mobil Mazda agar saksi Pasca  Ed Manulang mempersiakan STNK dan BPKB nya ,karena sebelumnya saksi Pasca sering melihat terdakwa bersama dengan Rio Dharma Sakti dan sudah sering bertemu di Rutan pondok Bambu dan kebetulan mobil dan STNKnya sudah mati ,maka saksi Pasa percaya ,selanjutnya saksi menyerahkan STNK dan BPKB mobil Toyota Fortuner dan Mazda berikut uang sebesar Rp.6 juta rupiah untuk pengurusan kendaraan tersebut ,dan untuk membayar ajak mobil Mazda sebesar Rp.4 juta rupiah .

Sekitar dua minggu kemudian saksi Pasca Ed menelphon saksi Tomy Haryoseno menanyakan mengenai pengurusan pajak mobil apakah sudah selesai atau belum ,dijawab oleh saksi Tomy “belum bisa karena sudah diblokir oleh KPK” selanjutnya saksi Pasca mengatakan kepada saksi Tomy apabila tidak bisa agar STNK BPKB berikut uangnya dikembalikan saja ,kengurusannya menunggu saksi korban selesai ditahan ,namun saksi Tomy menjawab “gak usah nanti saya yang mengurusnya ini bisa diurus “kemudian ketika saksi Pasca Ed membesuk Mindo Rosalina Manulang diRutan Pondok Bambu ,bertemu dengan Rio Dharma Sakti dan pada pertemuan tersebut ,Rio mengatakan keada Pasca Ed dengan kata-kata bu Rosa situasi sedang memanas dan sudah banyak yang mengintai tentang asset-asset kakak ,maka asset-asset kakak berupa mobil diamankan saja” kemudian Pasca mengatakan bagaimana kalau saya perlu kendaraan pakai apa nanti akan mengalami kesulitan “dan dijawab oleh Rio kalau ibu perlu nanti tinggal telephon saja biar diantar oleh sopir saya pak Bimbim “selanjutnya saksi Pasca Ed kepada saksi Mindo mengatakan “Gak apa –apa kak orangnya baik sering membantu aku tau beliau anak jendral dan anggota BIN kalau kerumah sering memakai mobil Luncrusser Dinas  CRV dan setiap saat naik mobilnya dan juga ada senjata “setelah mendengar perkataan saksi korban ,maka saksi Pasca Ed menyetujuinya .

saksi Tomy juga mengatakan kepada Mindo ,bahwa ia memiliki tambang pasir dan kapal tongkang juga infor mobil  sambil berkata “pakai dulu duitmu nanti saya ganti setelah bisnis selesai”lagi-lagi saksi Mindo Rosalina Manulang percaya dengan Tomy Haryoseno menyerahkan jaminan berupa cek  sambil mengatakan kepada Tomy ambil uangnya dirumah ,selanjutnya pada bulan Oktober 2011,ketika saksi Pasca membesuk Mindo Rosalina ,berkata kepada Pasca Ed agar menyerahkan uangnya kepada Tomy untuk biaya pertambangan pasir di Yogyakarta,dan kemudian Pasca Ed menyerahkan uang kada Tomy yang pertama sebesar Rp.350 juta  dan akan dikembalikan dalam jangka tiga bulan akan dikembalikan Rp.700 juta ,kedua sebesar R.250 juta rupiah akan dikembalikan sebesar Rp  300 juta rupiah , terakhir sebesar Rp. 150 juta rupiah akan dikembalikan Rp.180 juta rupiah,setelah cek yang diterimanya dan akan dicairkan ternyata cek tersebut ditolak oleh pihak Bank karena tidak ada dananya.

sidang yang diketuai oleh hakim Sigit Sutriono,SH dengan Anggota Kuswanto  dan RM Supeno,SH sidang diundur dan diacarakan seminggu dua kali.US

Jurnal Kota lugas dan terpecaya